Search
Facebook
LinkedIn
WhatsApp

Mahasiswa Psikologi Bantu Wujudkan Telukawur Desa Tangguh Bencana

Di pesisir utara Jepara, Desa Telukawur hidup berdampingan dengan laut yang memberi penghidupan sekaligus menghadirkan risiko. Banjir rob, abrasi, dan perubahan iklim telah lama menjadi bagian dari keseharian warga. Pada awalnya, Telukawur belum tergabung sebagai Desa Tangguh Bencana (DESTANA). Perubahan mulai terjadi ketika mahasiswa KKN Tematik Tim 10 Universitas Diponegoro hadir selama 33 hari di desa ini dan mendorong penguatan kesiapsiagaan berbasis komunitas, hingga Telukawur kemudian masuk dalam jejaring DESTANA.

Dalam proses tersebut, Hafidah Nur Lailatus S, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, mengambil peran pada sisi yang seringkali luput dari perhatian, yaitu kesiapan mental dan psikologis warga. Di bawah bimbingan dosen Fakultas Psikologi UNDIP, Aldani Putri Wijayanti, S.Psi., M.Sc., Hafidah melaksanakan kegiatan edukasi Psychological First Aid (PFA) kepada siswa Sekolah Siaga Bencana, Forum Pengurangan Risiko Bencana, serta warga pesisir selama Januari hingga Februari 2026. Edukasi ini bertujuan menumbuhkan pemahaman bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya soal fisik dan infrastruktur, tetapi juga kesiapan emosi, pikiran, dan cara menghadapi tekanan ketika bencana terjadi.

“Kami sadar bahwa pengurangan risiko bencana di Telukawur tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur. Kekuatan terbesar desa ini ada pada warganya. Ketika masyarakat punya kesiapan mental dan solidaritas yang kuat, mereka akan lebih tenang, lebih kompak, dan lebih sigap menghadapi situasi darurat,” ujar Kepala Desa Telukawur, Rokhman, S.Pd.I. Sejalan dengan semangat tersebut, Hafidah menyampaikan edukasi berbasis prinsip Prepare, Look, Listen, dan Link kepada warga dan siswa Sekolah Siaga Bencana. Dalam kegiatan ini, ia mengenalkan pentingnya memahami kebutuhan psikologis komunitas, mengenali tanda-tanda stres atau ketegangan, serta membuka ruang bagi warga untuk berbagi cerita dan kekhawatiran dalam suasana yang aman. Selain itu, Hafidah juga memberikan informasi mengenai sumber-sumber dukungan yang tersedia di sekolah, perangkat desa, dan forum kebencanaan sehingga warga tahu ke mana harus mencari bantuan ketika menghadapi tekanan psikologis.

Meskipun kegiatan ini bersifat edukatif dan tidak berupa pendampingan klinis, proses tersebut membantu warga menyadari bahwa kesiapsiagaan mental merupakan bagian penting dari ketangguhan desa. Selain kegiatan psikososial, Hafidah juga terlibat aktif dalam berbagai aktivitas komunitas bersama Tim KKN Tematik Tim 10, salah satunya aksi bersih pantai. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan pesisir dari sampah dan kerusakan, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat rasa kebersamaan warga. Melalui kerja bersama, warga membangun rasa memiliki terhadap wilayahnya sekaligus menumbuhkan optimisme kolektif, yang merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun resiliensi psikologis komunitas.

Selama 33 hari pelaksanaan KKN Tematik, Telukawur tidak hanya mengalami penguatan dari sisi sistem dan jejaring kebencanaan, tetapi juga dari sisi kesadaran psikologis warganya. Edukasi PFA yang diberikan membantu masyarakat lebih peka terhadap kondisi emosi diri sendiri dan orang lain, sehingga potensi kepanikan, konflik, atau kebingungan saat terjadi bencana dapat diminimalkan. Hal ini menjadi bekal penting bagi Telukawur untuk tumbuh sebagai desa yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga secara mental dan sosial. Berinteraksi langsung dengan masyarakat pesisir membuat Hafidah melihat bagaimana ilmu psikologi benar-benar hidup dan bermakna. Selama KKN, teori-teori yang ia pelajari di bangku kuliah tidak lagi sekedar konsep, tapi hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari warga. Antusiasme siswa Sekolah Siaga Bencana, keterbukaan warga dalam berdiskusi, serta semangat gotong royong dalam berbagai kegiatan desa memberi kesan mendalam bahwa psikologi dapat hadir secara konkret untuk menguatkan dan memberdayakan masyarakat.

Pengalaman KKN Tematik ini juga menjadi ruang belajar bahwa perubahan sosial tidak selalu harus dimulai dari program besar, tetapi bisa tumbuh dari edukasi sederhana yang dilakukan secara konsisten dan penuh empati. Bagi Hafidah, Telukawur bukan hanya lokasi pengabdian, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana ilmu psikologi dapat digunakan untuk menguatkan individu dan komunitas agar lebih siap, lebih tenang, dan lebih saling mendukung dalam menghadapi risiko bencana. Melalui kontribusi tersebut, Hafidah turut menjadi bagian dari transformasi Telukawur, dari desa pesisir yang rentan menjadi desa yang mulai menata diri sebagai Desa Tangguh Bencana. Kiprahnya bersama Tim KKN Tematik Tim 10 dan dukungan pemerintah desa menunjukkan bahwa penguatan kesiapsiagaan bencana akan jauh lebih bermakna ketika menyentuh aspek pikiran, emosi, dan relasi sosial warga.

Search

BERITA TERBARU

Kategori

fakultas psikologi UNDIP

Info Lainnya

Copyright (c) Fakultas Psikologi UNDIP | 2025

Halo magenta :
0851-9000-3568