Yogyakarta – Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro bekerja sama dengan The International Organization for Migration (IOM) menyelenggarakan kegiatan SDG’s International Community Service dengan tema “Mental Health Care Management for High-Risk and Vulnerable Groups in Humanitarian Settings” bertempat di The Alana Hotel and Conference Center Malioboro pada 16–18 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 41 staf Care Management IOM Indonesia yang berasal dari berbagai wilayah, seperti Tangerang, Medan, Batam, Jakarta, Kupang, dan Makassar. Para peserta merupakan tenaga Kesehatan maupun non Kesehatan yang secara langsung menangani pengungsi (refugees) dari berbagai negara, termasuk Afghanistan, Pakistan, Sudan, dan negara lainnya. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mendukung visi dan misi Universitas Diponegoro sebagai universitas kelas dunia dalam penguatan kolaborasi dengan pemanfaatan jejaring internasional sebagai solusi masalah dan tantangan yang ada pada masyarakat dengan kelibatkan civitas akademika Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dan civitas akademika dari luar negeri dalam implementasi kegiatan global yang bermanfaat untuk masyarakat. Adapun tujuan lain dari kegiatan ini adalah mendukung implementasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan SDG’s terutama SGD’s 3 (Good Health and Well-Being), SDG’s 11 (Sustainable Cities and Communities), dan SDG’s 17 (Partnership Strategy) pada kelompok-kelompok rentan (refugees).
Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi terkait Responding to Self-Harm (NSSI) and Suicidal Disclosure yang disampaikan oleh Dr. Lusi Nur Ardhiani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang menekankan pada identifikasi NSSI dan suicide attempt yang merujuk pada DSM-5 TR serta Safety Planning and Risk Management oleh Dr. Kartika Sari Dewi, S.Psi., M.Psi., Psikolog yang menekankan pada upaya sistematis untuk mencegah, mengurangi, dan merespons risiko keselamatan serta kesehatan mental yang dihadapi pengungsi (refugees), terutama dalam situasi kemanusiaan yang rentan. Selain paparan materi, kegiatan juga diisi dengan studi kasus yang didiskusikan bersama kelompok, dilanjutkan presentasi hasil diskusi kelompok, dan tanya jawab untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan praktis peserta. Pada sesi akhir, fasilitator membantu peserta menjelaskan cara pengisian instrument mental health sebagai upaya screening mental health para peserta.
Memasuki hari kedua, kegiatan menghadirkan Ajeng Puspitasari, Ph.D. yang bergabung secara daring via zoom meeting dari University of Wisconsin-Milwaukee, United State of America (USA), dengan moderator Arif Triman, S.Psi., M.Ed. Materi yang disampaikan meliputi Counselling for High-Risk Case in Humanitarian Settings serta Referral Pathways and Coordination. Sesi ini menekankan pentingnya keterampilan konseling pada kasus berisiko tinggi dan koordinasi lintas layanan kesehatan guna memastikan keberlanjutan dukungan psikososial bagi para pengungsi (refugees).
Pada hari ketiga, kegiatan ditutup dengan sesi yang menghadirkan Yohanis Franz La Kahija, S.Psi., M.Sc. dan Dr. Unika Prihatsanti, S.Psi., M.A., Psikolog. Materi yang disampaikan berfokus pada Grounding and Calming Strategies (Relaxation). Dalam sesi ini, peserta mempraktikkan berbagai teknik grounding dan relaksasi sebagai upaya membantu individu dalam mengelola stres, kecemasan, dan kondisi krisis. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang tidak hanya untuk memperkuat pemahaman konseptual, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di lapangan. Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta mampu meningkatkan kapasitas dalam memberikan layanan kesehatan mental yang lebih empatik, terstruktur, dan berkelanjutan bagi kelompok berisiko tinggi dan rentan di setting kemanusiaan.















