Search
Facebook
LinkedIn
WhatsApp

Mengungkap Jalur Psikologis Berbeda antara Aktivisme dan Radikalisme

Tokyo, Jepang | 22–27 Maret 2026 – Dalam ajang 16th Asian Conference on Psychology & the Behavioral Science (ACP2026), Norberta Fauko Firdiani, S.Psi., M.Si. yang merupakan dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, mempresentasikan penelitian terbarunya mengenai perbedaan mekanisme psikologis yang mendasari munculnya intensi aktivisme dan radikalisme. Konferensi ini diselenggarakan oleh International Academic Forum (IAFOR) bekerja sama dengan IAFOR Research Centre di Osaka School of International Public Policy (OSIPP), University of Osaka, serta mitra global IAFOR.

Penelitian ini berangkat dari pertanyaan tetang mengapa sebagian individu memilih jalur aktivisme yang damai, sementara yang lain cenderung mengarah pada radikalisme yang berpotensi melibatkan kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan makna diri merupakan faktor motivasional utama yang mendorong kedua bentuk intensi tersebut. Individu yang mengalami perasaan tidak berarti, tersisih, atau gagal cenderung terdorong untuk mencari kembali makna dan nilai diri mereka.

Namun demikian, jalur menuju aktivisme dan radikalisme tidak bersifat linear. Salah satu temuan kunci dalam studi ini adalah individu kecenderungan untuk mencari pengalaman intens dan menantang, lebih rentan mengarah pada radikalisme dibandingkan aktivisme. Dengan kata lain, meskipun memiliki akar motivasi yang sama, individu dengan kebutuhan arousal yang tinggi lebih mudah “melampaui batas” menuju tindakan yang ekstrem.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya interaksi antara rigiditas kognitif dan dorongan sensasi dalam memahami proses radikalisasi. Temuan ini menegaskan bahwa radikalisasi tidak semata-mata dipicu oleh kebutuhan akan makna, tetapi merupakan hasil dari kombinasi faktor kognitif dan perbedaan disposisi individu.

Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami kompleksitas jalur menuju radikalisme. Implikasi dari penelitian ini relevan bagi upaya pencegahan radikalisasi, khususnya pada kelompok muda. Strategi intervensi diharapkan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan makna, tetapi juga menyediakan alternatif kegiatan yang positif untuk menyalurkan kebutuhan secara konstruktif.

Melalui forum internasional ini, Norberta juga menjalin jejaring akademik dengan peneliti dari berbagai negara. Selain itu, partisipasi ini turut memperkuat kontribusi Universitas Diponegoro dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat. Melalui keterlibatan aktif dalam jejaring kolaborasi dan diseminasi hasil riset di forum internasional, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi yang lebih luas dan meningkatkan reputasi akademik global Universitas Diponegoro.

Search

BERITA TERBARU

Kategori

fakultas psikologi UNDIP

Info Lainnya

Copyright (c) Fakultas Psikologi UNDIP | 2025

Halo magenta :
0851-9000-3568